• (021)23579915, 23579916, 0811-8600-608 (WA), 021-23579945/46
  • sales@sewakamera.com
  • (021)23579915, 23579916, 0811-8600-608 (WA), 021-23579945/46
  • sales@sewakamera.com

Review Canon EOS 5D mark III


 

Sewakamera.com menjadi yang pertama di Indonesia yang menyediakan Canon EOS 5D mark III untuk disewa, tepatnya sejak 9 April 2012. Kamera ini kami yakini akan menjadi produk favorit karena kemampuan ISO tinggi yang sangat baik, peningkatan signifikan dalam performa auto fokus, kecepatan yang tinggi termasuk memproses foto HDR dan tentunya penyempurnaan di fitur videonya. Seperti apa kemampuan kamera Canon EOS 5D mark III ini? Inilah ulasan dan review spesial dari kami.

Canon EOS 5D mark III merupakan kelanjutan dari generasi sebelumnya yaitu EOS 5D mark II. Meski demikian, perubahan yang dilakukan Canon sangat banyak dan bisa dibilang 5D mark III adalah hasil persilangan antara EOS 7D (bodi dan kontrol) dan EOS 1D X (auto fokus dan movie mode). Fitur andalan dari 5D mark III adalah :

  • sensor CMOS 22 MP full frame
  • 61 titik AF (41 diantaranya adalah cross type)
  • ISO 100-25.600 (bisa diekspansi sampai 50-102.800)
  • 6 fps burst
  • 63 zone iFCL metering
  • in camera HDR
  • dual slot memory card (CF dan SD)

Ditinjau dari bodinya, 5D mark III sedikit lebih besar dan ada beberapa perubahan tata letak tombol. Kini ada tombol wajib DSLR Canon modern yaitu tombol Q (Quick control), lalu tombol live-view digabung dengan movie recording, lalu tombol DOF preview pindah ke sebelah kanan dan ada tombol khusus seperti Magnify, RATE dan Creative photo. Tombol ON-OFF pun pindah ke sebelah kiri atas, persis dibawah roda mode eksposur. Di dekat tombol rana kini ada satu tombol kecil bernama M-Fn yang bisa dipakai untuk mengganti AF area mode.

Bila disederhanakan, tiga perubahan terbesar yang dialami EOS 5D mark III adalah aspek auto fokusnya, kemampuan ISO-nya dan kemampuan videonya. Sedangkan peningkatan kecepatan prosesor (kini memakai Digic 5+) kami anggap paling berguna untuk memproses foto HDR di kamera. Kita akan bahas semua ini selengkapnya.

Auto Fokus

Salah satu hal yang kurang disukai pada 5D mark II adalah kinerja auto fokusnya. Memang untuk kebutuhan fotografi dasar, 9 titik AF sudah mencukupi. Tapi 5D mark II adalah kamera yang diincar profesional, apalagi saat 7D hadir dengan 19 titik AF maka urusan auto fokus di 5D mark II jadi terlihat ketinggalan jaman. Kini pada 5D mark III Canon melakukan perubahan besar dengan memakai modul yang ditanamkan di 1D X yaitu sebanyak 61 titik AF, dengan 41 diantaranya cross type. Lebih seru lagi, lima titik di tengah adalah jenis dobel cross tipe, yang lebih sensitif lagi.

Dengan titik sebanyak ini mungkin pembaca merasa bingung bagaimana memilih titik AF yang diinginkan. Tidak perlu kuatir, Canon memberi banyak pilihan AF points selection, terdiri dari lima pilihan manual hingga yang otomatis. Cukup tekan tombol AF point lalu tekan M-Fn untuk berganti mode, lalu pindahkan titik yang diinginkan dengan joystick 4 arah. Selain memilih titik, kita juga bisa memilih grup AF area. Urutan mode AF selection yang bisa dipilih adalah : Spot AF - 1 point AF - Expand AF area - Expand AF area : Surround - Zone AF - Auto selection. Tapi kalau 61 titik AF ini dirasa terlalu banyak, di menu pun bisa ada pilihan untuk mengurangi titik fokus menjadi 41 titik, 15 titik bahkan jadi 9 titik seperti 5D mark II. Di menu juga bisa diatur apakah foto yang sudah diambil saat ditampilkan di layar LCD kamera juga ingin di overlay dengan titik fokus yang dipilih, sehingga kita bisa tahu bagian mana dari foto yang difokus oleh kamera.

Meski 5D mark III punya mode servo AF yang sama seperti Canon lain (One Shot, AI Servo dan AI Focus), namun pada Shooting Menu, kini disediakan satu halaman khusus untuk AF, dengan lima sub halaman pengaturan yang lebih spesifik termasuk memilih skenario auto fokus. Canon menyediakan 6 skenario yang bisa dipilih sehigga kinerja AF kamera bisa sesuai yang diharapakan, khususnya dalam melakukan tracking ke obyek yang bergerak. Dengan begini maka kamera 5D mark III bisa diandalkan untuk memotret aksi yang selalu bergerak dan tidak bisa diprediksi seperti olahraga dan satwa liar.

Kemampuan ISO

Sensor 5D mark III berjenis full frame sehingga kemampuan ISO tingginya pasti baik. Bila sensor APS-C mulai menunjukkan noise di ISO 1600, maka sensor full frame akan mulai menunjukkan noise di ISO 3200. EOS 5D mark III ini punya sensor yang didesain ulang sehingga mampu memberi hasil foto yang lebih baik, khususnya di ISO tinggi. Maka itu bila di kamera sebelumnya Canon membatasi nilai ISO maksimum adalah di ISO 6400, maka kali ini 5D mark III bisa mencapai ISO 25.600. Sebagai info, melalui Custom Function (C-Fn) kamera Canon bisa dipaksa untuk naik melebihi ISO maksimal. Jadi 5D mark II bisa dinaikkan sampai H1 (setara ISO 12.800) dan H2 (setara 25.600) dan 5D mark III bahkan bisa ditingkatkan lagi yaitu pada H1 setara dengan ISO 51.200 dan H2 yang setara dengan ISO 102.400 !! Bayangkan kemampuan kamera ini untuk membekukan gerakan di tempat yang kurang cahaya seperti wedding, konser maupun olah raga indoor.

Selain hasil foto di ISO tinggi yang bersih dari noise, 5D mark III juga semakin memanjakan penggunanya dengan memberi fitur Auto ISO yang fleksibel. Dengan memakai ISO Auto, kita tak perlu lagi repot untuk menentukan nilai ISO yang diinginkan setiap akan memotret. Rentang Auto ISO bisa dipilih minimum dan maksimumnya, mulai dari ISO 100 sampai ISO 25.600. Selain itu untuk Auto ISO ini ada pilihan tambahan yaitu minimum shutter speed mulai dari 1/250 detik hingga 1 detik. Ini berguna untuk menyesuaikan dengan fokal lensa yang dipakai supaya saat memotret tanpa tripod hasil fotonya tidak blur karena gerakan tangan.

Fitur Video untuk profesional

Fungsi kamera DSLR semakin dirasakan manfaatnya bagi yang suka membuat klip video, apalagi dengan sensor full frame maka merekam video akan menghasilkan gambar layaknya film bioskop dengan blur di latar belakang. Ditambah lagi merekam video di tempat kuang cahaya pun bukan masalah karena bisa memakai ISO tinggi tanpa kuatir noise, EOS 5D mark III bisa merekam video full HD (1920 x 1080) progressive dengan berbagai pilihan frame rate. Pengaturan eksposur juga bisa dilakukan saat sebelum maupun saat sedang merekam video, seperti merubah shutter speed, merubah diafragma atau merubah ISO.

Tapi kemampuan itu pun bisa ditemui di kamera EOS yang lebih rendah seperti 600D maupun 60D. Satu hal yang membuat 5D mark III menjadi berbeda adalah diberikannya pilihan kompresi MPEG4 sesuai kebutuhan. Untuk mereka yang tidak perlu melakukan editing video bisa memilih kompresi IPB (Intra frame-Predictive frame-Bidirectional frame) sehingga ukuran file lebih kecil. Bagi kebutuhan profesional maupun editing, bisa memilih kompresi All-I (semuanya memakai Intra frame) sehingga setiap frame dalam rekaman video punya kualitas tinggi. Sebagai dampaknya, ukuran file jadi 4x lipat lebih besar dan memori card pasti cepat penuh.

In Camera HDR, pertama di DSLR Canon

Berkat prosesor Digic 5+ yang 30% lebih cepat dari sebelumnya, 5D mark III kini dibekali fitur in camera HDR. Fitur ini bila diaktifkan akan menggabungkan tiga foto yang berbeda eksposur lalu menjadikan satu foto dengan jangkauan dinamis yang lebih lebar, cocok untuk menangkap detil di area terang dan gelap di area kontras tinggi. Dengan memanfaatkan fitur ini, kita bisa mendapat foto HDR tanpa harus mengolahnya di komputer.

Pengujian yang kami lakukan terhadap fitur HDR ini membuahkan kesan yang memuaskan. Pertama kami terkesan oleh banyaknya pilihan yang bisa dikustomisasi untuk HDR di 5D mark III ini. Sebutlah misalnya pemilihan perbedaan eksposur dari 1EV, 2 EV, 3 EV atau otomatis. Lalu ada pilihan apa kamera harus melakukan align terhadap ketiga foto yang diambil atau tidak. Bila memakai HDR dengan tripod maka align ini bisa di disable. Kemudian ada lagi pilihan apakah kita ingin kamera menyimpan hasil HDR bersamaan dengan ketiga foto aslinya atau cukup satu foto hasil olah HDR saja. Hal ini berguna bila hasil HDR dari kamera belum memuaskan kita dan ingin diulang lagi dengan penggabungan di komputer nanti.

Tapi dari sederet opsi HDR yang ada di 5D mark III, yang paling menarik adalah pilihan Effect yang beragam, seperti Natural (apa adanya) maupun Artistik. Untuk pilihan Artistik terbagi lagi yaitu Art standard, Art vivid, Art bold dan Art embossed. Hasil HDR dengan efek artistik ini memang punya kontras dan saturasi yang lebih menonjol daripada aslinya, tapi dalam banyak aplikasi efek ini bakal sangat membantu.

Contoh tanpa HDR :

Contoh dengan HDR Art Bold:

Fitur-Fitur lainnya

Sebagai kamera profesional, masih banyak fitur berguna yang dimiliki 5D mark III. Sebut saja misalnya in camera RAW coversion yang bisa merubah file RAW ke JPG tanpa komputer. Bukan sekedar merubah, proses konversi ini juga memberikan banyak pilihan pengaturan JPG seperti WB, noise reduction, Auto Lighting Optimizer, JPG quality dan koreksi distorsi.

Selain itu shutter di 5D mark III ini teruji sampai 150 ribu kali, dengan kecepatan maksimum 1/8000 detik dan bisa memotret sampai 6 foto per detik. Dalam pengaturan drive mode, bisa dipilih shutter yang silent, dan bahkan meski silent bisa dipakai untuk memotret kontinu tapi hanya 3 fps. Kami rasakan di mode silent shutter ini suara jepretan jadi jauh lebih lembut, tapi masih terdengar karena cermin tetap masih bergerak naik turun saat kamera memotret.

Fitur lain yang cukup berguna adalah live view dengan berbagai pilihan auto fokus. Sebagaimana kamera DSLR lainnya, 5D mark III tetap akan kehilangan kemampuan auto fokusnya yang superior saat live view. Hal ini karena saat live view kamera beralih ke mode deteksi kontras, seperti kamera non DSLR. Deteksi kontras jauh lebih lambat dan kurang peka di tempat gelap. Kemampuan 5D mark III untuk mengunci fokus disaat live view termasuk lumayan cepat, sekitar 1 detik. Bilapun ingin lebih cepat, ada plihan Quick AF saat live view tapi saat proses mengunci fokus gambar di LCD akan gelap sejenak.

Jadi sebagai penerus dari 5D mark II, Canon EOS 5 D mark III ini bukan sekedar melakukan minor upgrade tapi seperti rombak total jeroannya. Peningkatan resolusi sensor memang tidak banyak (dari 21 MP ke 22 MP) tapi Canon memberi peningkatan yang lebih berguna bagi fotografer maupun videografer, khususnya di bidang auto fokus. Selain itu adanya fitur HDR tentu jadi sebuah bonus yang menarik. Dari segi bodi kamera sendiri pun tidak ada kekurangan, karena 5D mark III kokoh berbahan magnesium alloy, cakupan viewfinder 100%, layar LCD 3,2 inci yang tajam dan dilengkapi berbagai port untuk konektivitas eksternal (flash, HDMI, AV, USB, mic input, headphone dan remote).


Ayo booking sekarang juga, Tempat Sewa Kamera terbaik hanya di sewakamera.com. Anda bisa juga mencoba kecanggihan kamera canon 5D Mark III ini di sewakamera.com Bali (www.sewakamera.com/bali)

 

« Kembali